Select Page

Manusia Bertopeng

Manusia Bertopeng

Di sebuah desa kecil yang sunyi, hiduplah seorang pria yang dikenal sebagai “Manusia Bertopeng”. Tidak ada yang tahu namanya, dan tak seorang pun peduli untuk menanyakannya. Setiap hari, ia berjalan menyusuri jalan setapak yang berdebu dengan tubuh yang dibalut pakaian lusuh, topi lebar menutupi wajahnya yang selalu tersembunyi.

Orang-orang desa hanya mengenalnya sebagai sosok samar yang datang dan pergi tanpa suara. Ia sering terlihat membantu tanpa diminta—memperbaiki pagar yang rusak, membersihkan jalan yang dipenuhi daun kering, atau menambal atap rumah yang bocor. Namun, ia selalu melakukannya ketika tidak ada yang melihat. Pekerjaannya selesai saat fajar menyingsing, meninggalkan keajaiban kecil yang tak pernah diketahui pelakunya.

Anak-anak desa menganggapnya sebagai bayangan, tokoh misterius dalam kisah-kisah yang mereka bicarakan dengan berbisik. “Siapa dia?” tanya mereka dengan penasaran. Namun, tidak ada yang benar-benar tahu jawabannya. Bahkan ketika melihat sekilas bayangan tubuhnya dari kejauhan, mereka hanya melihat sosok yang berlalu cepat tanpa menoleh.

Manusia Bertopeng tidak pernah berbicara. Ia tidak butuh ucapan terima kasih, tidak mengharapkan pengakuan, dan bahkan tidak ingin dikenal. Ia hidup dalam kesunyian, menyembunyikan wajahnya di balik topi dan sorban yang menutupi hampir seluruh kepalanya. Bukan karena malu atau takut, melainkan karena ia tidak ingin menjadi seseorang yang dianggap istimewa.

Di balik topeng yang ia kenakan, ada luka yang dalam. Bukan luka fisik, melainkan luka batin yang membuatnya memilih jalan kesederhanaan yang sunyi. Dahulu, ia adalah seorang pemuda yang penuh semangat dan cita-cita. Ia pernah diakui, dipuja, bahkan dihormati. Namun, kesombongan membuatnya jatuh, kehilangan segalanya termasuk harga dirinya. Sejak saat itu, ia bersumpah untuk tidak lagi menonjolkan diri.

Suatu hari, desa dilanda badai hebat yang membuat sungai meluap dan menghancurkan jembatan utama. Warga desa panik, takut terisolasi tanpa jalan keluar. Ketika pagi datang, mereka menemukan jembatan itu telah diperbaiki. Tidak sempurna, tapi cukup kuat untuk dilalui.

Saat itu, seorang anak kecil melihat sosok berjubah kumal berjalan menjauh dengan tubuh sedikit bungkuk, tertatih di tengah embun pagi. “Siapa dia?” tanyanya dengan polos. Seorang lelaki tua menjawab sambil menghela napas, “Dia adalah manusia yang tidak ingin dihargai. Dia adalah angin yang datang dan pergi tanpa nama.”

Manusia Bertopeng berhenti sejenak, menoleh ke arah desa yang sedang berterima kasih tanpa tahu kepada siapa mereka bersyukur. Ia tersenyum di balik topeng yang menyembunyikan dirinya. Tanpa kata, ia melangkah pergi, menghilang di balik bukit, dan menjadi legenda tanpa nama.

Tidak ada yang tahu siapa dia, dan begitulah ia menginginkannya. Hanya angin yang menjadi saksi dari pengabdian sunyinya, dan alam semesta yang mengabadikan kebaikan yang tidak butuh penghargaan.